jimus Untuk membuat box subwoofer sederhana, diperlukan beberapa alat bantu yang wajib ada agar proses pengerjaannya tidak mengalami masalah-masalah teknis yang fatal, sehingga mengakibatkan hasil yang diinginkan tidak sesuai dengan tema yang akan digagas.
1. Alat potong
Proses penggunaanya mungkin Anda sudah mengetahui dengan kinerja mesin ini, fungsinya sudah kelihatan untuk memotong benda-benda dari kayu, penggunaan alat ini harus hati-hati, karena salah jalur bisa melukai bagian tubuh Anda.
2. Mesin gerinda
Mesin gerinda fungsinya supaya bisa menghaluskan tepi bahan kayu yang akan dipotong untuk membuat box subwoofer.
3. Paku
Walaupun terlihat sepele, benda yang satu ini mempunyai peranan yang dibutuhkan dalam pengerjaan box subwoofer, karena untuk menyambungkan setiap bahan kayu yang akan dirangkai menjadi sebuah box yang sederhana, diperlukan penyambung yang kuat.
4. Papan MDF
Inilah bahan utama yang dibutuhkan untuk pengerjaan box subwwofer, karena MDF menurut Rochim installer Car Audio Specialist Kemayoran Jakarta ini dapat menghasilkan suara yang bagus dibandingkan bahan baku lainnya.
Proses pengerjaan
Dalam mengerjakan box subwoofer yang sederhana memerlukan ketelitian yang serius, karena ketika kita meleset dalam penghitungan untuk ukuran box, akan mempengaruhi suara yang akan dihasilkan pada komponen subwoofer yang akan disematkan di dalam mobil.
Menurut Rochim, untuk menghitung tepatnya ukuran box ada rumus sederhana agar ketepatannya akurat, yaitu panjang x lebar x tinggi papan box.
Setelah mendapatkan hasil dari rumus tadi hasilnya masih satuan cm³ jika Anda mengukur dengan satuan cm. Sedangkan di spesifikasi box untuk subwoofer biasanya data yang tertera satuannya sudah memakai cu/ft.
Sehingga untuk mencari satuan itu hasil dari volume tadi di convert ke cu/ft dengan cara hasil dari volume dengan satuan cm³ diubah ke satuan dm³, karena menurut aturan baku satuan volume 1 dm³ sama dengan satu liter.
Nah, hasil akhir dari satuan liter hasilnya di kalikan dengan 0,00035, maka akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan box yang akan dibuat dengan satuan cu/ft.
"Rumus ini adalah acuan dasar dalam membuat box subwoofer standar," ungkap Rochim. Dia juga berpendapat hasil yang didapat akan menyesuaikan box yang telah diukur tadi, dan bentuknya bisa variatif, antara kubus, persegi panjang, segi lima maupun bentuk lainnya.
Sebagai ilustrasi, misalnya kita membuat box subwoofer dengan ukuran panjang 39,5 cm x lebar 37 cm x tinggi 30 cm, hasil yang di dapat adalah 43.845 cm³.
Setelah diubah ke satuan dm³ menjadi 4384,5 dm³, untuk mencari satuan liter sudah diketahui, karena menurut aturan baku hitungan volume 1 liter sama dengan 1 dm³.
Sehingga jika sudah diketahui hasil liter yang didapat kemudian dikalikan dengan 0,00035 untuk mengetahui satuan cu/ft, jadi 4384,5 x 0,00035 dan mendapatkan hasil sebesar 1,534 cu/ft. sehingga box subwoofer ini memiliki 1,534 cu/ft untuk volume boxnya.
Setelah mengetahui hasil menghitung isi box, barulah kita mulai mengerjakan proses pembuatan box sederhana dengan memotong dan merangkai bahan kayu MDF.
Papan MDF dipotong dengan ukuran yang disesuaikan dengan besarnya box yang akan dibuat.
Untuk box sederhana biasanya menggunakan system box yang berjenis sealed, bentuk box sealed tidak besar dan tidak berlebihan memakan tempat, sehingga pengerjaannya mudah dilakukan bagi siapa saja.
Tips yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan box sederhana ini yaitu jangan menyalahi ukuran box dari proses penghitungan yang dipaparkan tadi, karena bila kelebihan mengukur mengakibatkan suara yang dikeluarkan subwoofer dengan menggunakan box ini tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
Tampilkan postingan dengan label Audio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Audio. Tampilkan semua postingan
01/03/11
12/02/11
Crossover pasif Kalkulator, Woofer Box Modeling
Berpikir tentang speaker gedung? Berikut adalah beberapa alat yang bisa membantu, sebuah halaman web untuk menghitung nilai crossover pasif standar. Dan satu esensial (gunakan versi web jika Anda tidak melakukan Windows) alat, WinISD , memungkinkan Anda untuk menghilangkan sebagian besar dugaan yang terlibat dalam mendapatkan kotak yang tepat untuk Anda woofer / subwoofer. Dan Madisound memiliki halaman penuh hal desain gratis juga.
Merancang box Speaker dengan WinISD
WinISD
adalah software untuk merancang box speaker dengan OS Windows 9x/NT. Kita dapat merancang box speaker Closed, Vented dan Bandpassdengan program ini. Juga dapat menghitung beberapa jenis filter.
adalah software untuk merancang box speaker dengan OS Windows 9x/NT. Kita dapat merancang box speaker Closed, Vented dan Bandpassdengan program ini. Juga dapat menghitung beberapa jenis filter.
11/02/11
Speaker / Amplifier Pengkabelan FAQ - Tutorial
Apa yang dimaksud dengan beban 8 ohm, 4 ohm load?
& Nbsp ini adalah resistansi (impedansi) yang disajikan oleh pembicara yang dilihat oleh amplifier. Ini juga dapat mencakup crossover dan sirkuit terhubung ke speaker. Ketika beban berkurang, meningkatkan output penguat. Ada resistensi kurang arus, dan speaker dapat menarik daya yang lebih dari amp. Menggambar daya lebih dari amplifier ini dirancang untuk akan merusak amp.
Setiap amplifier dirancang untuk menangani beban tertentu. Untuk amplifier rumah nomor ini biasanya dimulai dengan 8 ohm. Dengan amplifier mobil biasanya 4 ohm. Semua amplifier dapat menangani resistensi yang lebih tinggi (beban), tetapi mereka akan menghasilkan output kurang. Kebanyakan kualitas amplifier juga dapat menangani resistensi yang lebih rendah. amp Kebanyakan mobil dapat menangani beban ohm 2, sementara beberapa bisa serendah 1 / 2 ohm.
Bagaimana jembatan amp?
Pertama, pastikan bahwa penguat Anda miliki adalah bridgeable. Jika Anda mencoba menjembatani amp yang tidak dirancang untuk dijembatani, Anda dapat merusak amp. Pada dasarnya, ketika Anda jembatan amp anda menggunakan terminal + dari satu saluran dan - terminal dari yang lain. Petunjuk yang disertakan dengan amp harus menjelaskan yang terminal untuk digunakan. Jika tidak, mencari beberapa indikasi samping terminal pembicara pada amp. Terkadang, akan ada garis yang menghubungkan dua terminal harus Anda gunakan untuk jembatan amp, seperti yang ditunjukkan di sebelah kanan.
Apa yang terjadi ketika Anda jembatan amp?
Secara teoritis, keluaran tersebut harus 4 kali kekuatan satu saluran pada amp. Sebuah amp 50Wx2 dijembatani akan bertindak sebagai amp 200Wx1. Sayangnya, Anda hanya melihat sekitar 2 / 3 untuk 3 / 4 dari kekuatan ini. Nomor ini biasanya sama dengan kekuatan gabungan dari 2 saluran di setengah beban. Ambil contoh berikut amplifier stereo mobil 2 saluran:
Kecuali dinyatakan lain, amp ini akan stabil di bawah 2 stereo ohm atau 4 ohm bridge mono. Mencoba untuk menggunakan amplifier pada beban yang tidak stabil akan merusak amp.
Bagaimana Anda menjalankan speaker secara paralel?
& Nbsp ini adalah resistansi (impedansi) yang disajikan oleh pembicara yang dilihat oleh amplifier. Ini juga dapat mencakup crossover dan sirkuit terhubung ke speaker. Ketika beban berkurang, meningkatkan output penguat. Ada resistensi kurang arus, dan speaker dapat menarik daya yang lebih dari amp. Menggambar daya lebih dari amplifier ini dirancang untuk akan merusak amp.
Setiap amplifier dirancang untuk menangani beban tertentu. Untuk amplifier rumah nomor ini biasanya dimulai dengan 8 ohm. Dengan amplifier mobil biasanya 4 ohm. Semua amplifier dapat menangani resistensi yang lebih tinggi (beban), tetapi mereka akan menghasilkan output kurang. Kebanyakan kualitas amplifier juga dapat menangani resistensi yang lebih rendah. amp Kebanyakan mobil dapat menangani beban ohm 2, sementara beberapa bisa serendah 1 / 2 ohm.
Bagaimana jembatan amp?
Pertama, pastikan bahwa penguat Anda miliki adalah bridgeable. Jika Anda mencoba menjembatani amp yang tidak dirancang untuk dijembatani, Anda dapat merusak amp. Pada dasarnya, ketika Anda jembatan amp anda menggunakan terminal + dari satu saluran dan - terminal dari yang lain. Petunjuk yang disertakan dengan amp harus menjelaskan yang terminal untuk digunakan. Jika tidak, mencari beberapa indikasi samping terminal pembicara pada amp. Terkadang, akan ada garis yang menghubungkan dua terminal harus Anda gunakan untuk jembatan amp, seperti yang ditunjukkan di sebelah kanan.
Apa yang terjadi ketika Anda jembatan amp?
Secara teoritis, keluaran tersebut harus 4 kali kekuatan satu saluran pada amp. Sebuah amp 50Wx2 dijembatani akan bertindak sebagai amp 200Wx1. Sayangnya, Anda hanya melihat sekitar 2 / 3 untuk 3 / 4 dari kekuatan ini. Nomor ini biasanya sama dengan kekuatan gabungan dari 2 saluran di setengah beban. Ambil contoh berikut amplifier stereo mobil 2 saluran:
| Daya | Mode Modus | Resistance Perlawanan |
|---|---|---|
| 50x2 50x2 | stereo stereo | at 4 ohms di 4 ohm |
| 75x2 75x2 | stereo stereo | at 2 ohms di 2 ohm |
| 150x1 150x1 | bridged jembatan | at 4 ohms di 4 ohm |
Bagaimana Anda menjalankan speaker secara paralel?
10/02/11
Measuring Speaker T-S Parameters
To properly determine the T-S parameters of your speaker
CLOSED,
VENTED,
BAND-PASS BOX,
LPAD,
PASIF X-OVER (SLOP) 1st/ 2nd/ 3th/ 4th ORDER,
ZOBEL (IMPEDANCE EQUALIZER),
1/4 LAMDHA,
NOTCH FILTER,
GRAFIK RESPONS AUDIO Hz vs Ohm / GRAFIK RTA Hz vs dB,
TIME ALLIGMENT
Set up diagram
T-S Parameter
www.webervst.com
Istilah yang akan digunakan dalam merakit Speaker
(Fs,Re,Qms,Qes Qts,Le,Sd,..),CLOSED,
VENTED,
BAND-PASS BOX,
LPAD,
PASIF X-OVER (SLOP) 1st/ 2nd/ 3th/ 4th ORDER,
ZOBEL (IMPEDANCE EQUALIZER),
1/4 LAMDHA,
NOTCH FILTER,
GRAFIK RESPONS AUDIO Hz vs Ohm / GRAFIK RTA Hz vs dB,
TIME ALLIGMENT
Set up diagram
T-S Parameter
www.webervst.com
T/S Parameter
Dr. A.N. Thiele & Dr. Richard Small.
Ported, sealed atau bandpass?
Speaker enclosure, tidak ada yang all in one !
Pertimbangan lainnya dalam memilih speaker multimedia adalah model enclosure dari speaker.
Menyambung penjelasan sebelumnya mengenai jenis konus speaker dan pengaruhnya terhadap karakter tertentu, maka posting kali ini membahas tentang pengaruh enclosure terhadap karakter nada-nada tertentu dalam musik.
Semestinya ada lebih dari 2 jenis enclosure/box speaker tapi yang akan kita bahas hanya 3 saja karena hanya 2 jenis ini yang umumnya di anut oleh speaker multimedia, yaitu :
Sealed enclosure
Pertimbangan lainnya dalam memilih speaker multimedia adalah model enclosure dari speaker.
Menyambung penjelasan sebelumnya mengenai jenis konus speaker dan pengaruhnya terhadap karakter tertentu, maka posting kali ini membahas tentang pengaruh enclosure terhadap karakter nada-nada tertentu dalam musik.
Semestinya ada lebih dari 2 jenis enclosure/box speaker tapi yang akan kita bahas hanya 3 saja karena hanya 2 jenis ini yang umumnya di anut oleh speaker multimedia, yaitu :
Sealed enclosure
30/01/11
System Audio Idaman
Sebagai seorang audiophile/videophile tentu merupakan suatu dambaan apabila komponen yang mereka beli dapat dirasakan keindahannya dan kemerduan dari suara yang dihasilkannya. Tetapi dalam kenyataannya, sulit sekali kita dapat terpuaskan dari suara yang dihasilkannya. Dan tantangan kedua adalah bagaimana memaksimalkan kepuasaan kita dengan budget yang ada.
Planning
Planning merupakan hal yang terpenting sebelum melakukan suatu kegiatan baik dalam komunitas kerja maupun dengan kegiatan sehari-hari . Demikian pula pada saat ingin membeli barang elektronik, penting sekali apabila kita sudah dapat menentukan barang apa yang kita beli, berapa harganya dan kenapa kita beli komponen tersebut sebelum keputusan membeli suatu barang dilakukan.Langkah pertama adalah menentukan berapa besar anggaran yang dialokasikan untuk membangun system audio. Tentukan batasan maksimal dan target komponen yang akan dibeli. Kita perlu berhati – hati dengan ambisi kita dalam berburu peralatan high – end. Banyak sekali kasus dimana seorang audiophile telah berbelanja sampai angka yang luar biasa namun suara yang dihasilkan dari system audionya tidaklah sebanding dengan apa yang telah dikeluarkannya. Bukan karena komponenya jelek tetapi karena komponen-komponen tersebut tidak bersinergi menghasilkan suara yang baik tetapi justru sebaliknya. Misalnya loudspeaker yang dipilih adalah yang berkarakter “bright dan super detail” dan amplifier yang dipilh juga yang berkarakter “bright” . Alhasil, system audionya hanya dapat didengar pada setengah jam pertama sedangkan selanjutnya kita sudah capek dan jenuh dibuatnya.
Pengenalan Komponen
Sebagai awal membangun sistem audio ada baiknya mengetahui komposisi umum untuk sebuah system audio high end :Sumber Suara: CD Player, Turntable atau perangkat sumber suara lain
Penguatan suara: Integrated Amp atau Pre-Power Amp
Speaker: Monitor, Floorstand
Perkabelan: Interkonek, Speaker
Aksesoris: Power Conditioner, Equipment Platform
Ruang Dengar: Akustik
Setelah mengetahui kompsisi komponen dasar suatu system High End, selanjutnya adalah menentukan berapa budget yang akan dialokasikan ke masing-masing komponen tersebut. Yang paling umum berlaku adalah sebagai berikut :Speaker: Monitor, Floorstand
Perkabelan: Interkonek, Speaker
Aksesoris: Power Conditioner, Equipment Platform
Ruang Dengar: Akustik
Sumber Suara: 20%
Penguat Suara: 30%
Loudspeakers 40%
Cable & Accessories 10%
Total = 100%
Budget ruang dengar idealnya sekitar 30% – 75% dari total harga diatas. Tetapi hal ini tidak mutlak.
Loudspeakers
Apa itu crossover?
Dulu waktu pertama main2 speaker, saya juga ga tau, “Binatang apa crossover itu?”
Tapi ternyata crossover merupakan salah satu pemain kunci dalam pembuatan sebuah speaker. Crossover, ane singkat XO aja biar cepet ngetiknya, tapi bukan XO minuman keras, lhoo…
XO, nama lainnya rangkaian tapis. Pekerjaan utamanya, memilah / membagi frekuensi yang entarnya diterusin ke driver (woofer atau tweeter kalo di 2-way). Yang paling bergantung dengan keberadaan rangkaian xo ini adalah tweeter, karena dia ngga didesain utk membunyikan frekuensi rendah, baik dari konstruksi membrannya maupun voice coilnya (kumparan kawat di dalamnya). Kalo sampe ada frekuensi rendah yang tembus ke tweeter, biasanya tweeter ga langsung mati sih, tapi hajaran low freq ke tweeter akan berbunyi ‘ngeprek’ spt barang tipis disentil jari, “prek…prek…” gitu. Kalo membran tweeter dipegang, terasa bergetar keras. Kalau dibiarkan, siap-siap keilangan tweeter karena voice coil putus. Memang ada tweeter yang ber-ferro fluid. Fungsi ferro fluid di tweeter mirip seperti radiator mobil, dia bekerja mendinginkan coil sehingga coil lebih tahan, tapi tetap bukan utk dihajar frekuensi rendah, maksudnya lebih supaya tweeter bisa bekerja dengan rating daya yang cukup besar dengan aman. Kalo dihajar frek rendah secara kontinyu, ya putus juga tu tweeter walopun ada ferro fluidnya.
Kalau woofer, masih gapapa dilangsungin tanpa xo juga. Tapi sebaiknya tetap dikasih xo utk woofer, karena pada frekuensi tinggi, sekalipun ngga bikin woofer putus, tapi akan keluar suara yang tidak musikal karena gejala cone break-up istilah teknisnya. Kalau pake xo, hal ini bisa dihindari.
XO (crossover) kalau dibagi berdasarkan apa yah… berdasarkan posisi barangkali ya, dibagi jadi 2 yaitu:
1. active xo / xo aktif : ini letaknya di depan amplifier (maksudnya secara skema), jadi posisi xo sebelum penguat akhir. Aplikasi gini lazim dipake di pro-audio. Pertimbangan utamanya utk efisiensi baik dari biaya maupun bobot. Pada sistem 2-way audiopro, active xo kemudian dibarengi dengan bi-amping, satu ampli mendrive tweeter dan satu ampli mendrive woofer/fullrange driver. Secara perhitungan teknis, active xo memang lebih mudah didesain karena impedance yang dihadapi adalah konstan yaitu impedance amplifier, sementara pada passive xo, impedance berubah terhadap frequency. Active xo juga lebih hemat, karena komponennya relatif lebih kecil dan murah karena arus yang lewat juga masih arus pre-amplified, lain dengan passive xo yang harus menangani arus keluaran amplifier yang jauh lebih besar.
2. passive xo / xo pasif : xo ini letaknya di belakang amplifier (secara skema), jadi setelah lewat amplifier. Xo jenis berada dalam speaker pasif, dan jenis ini yang mungkin lebih umum kita kenal. Barangnya ga keliatan karena ada di dalam box speaker. Spt uda disebutin sekilas di atas, xo pasif lebih sulit didesain karena menghadapi impedansi yang berubah-ubah terhadap frekuensi.
Kenapa active xo umum dipakai di aplikasi audiopro (tata suara panggung / ‘live’ music) ? Banyak pertimbangannya, tapi utamanya sih efisiensi, baik bobot/berat, biaya dan waktu. Amplifier di-dekat-kan sedekat mungkin dengan speaker, supaya kabel speaker bisa sependek mungkin.
Tapi ternyata crossover merupakan salah satu pemain kunci dalam pembuatan sebuah speaker. Crossover, ane singkat XO aja biar cepet ngetiknya, tapi bukan XO minuman keras, lhoo…
XO, nama lainnya rangkaian tapis. Pekerjaan utamanya, memilah / membagi frekuensi yang entarnya diterusin ke driver (woofer atau tweeter kalo di 2-way). Yang paling bergantung dengan keberadaan rangkaian xo ini adalah tweeter, karena dia ngga didesain utk membunyikan frekuensi rendah, baik dari konstruksi membrannya maupun voice coilnya (kumparan kawat di dalamnya). Kalo sampe ada frekuensi rendah yang tembus ke tweeter, biasanya tweeter ga langsung mati sih, tapi hajaran low freq ke tweeter akan berbunyi ‘ngeprek’ spt barang tipis disentil jari, “prek…prek…” gitu. Kalo membran tweeter dipegang, terasa bergetar keras. Kalau dibiarkan, siap-siap keilangan tweeter karena voice coil putus. Memang ada tweeter yang ber-ferro fluid. Fungsi ferro fluid di tweeter mirip seperti radiator mobil, dia bekerja mendinginkan coil sehingga coil lebih tahan, tapi tetap bukan utk dihajar frekuensi rendah, maksudnya lebih supaya tweeter bisa bekerja dengan rating daya yang cukup besar dengan aman. Kalo dihajar frek rendah secara kontinyu, ya putus juga tu tweeter walopun ada ferro fluidnya.
Kalau woofer, masih gapapa dilangsungin tanpa xo juga. Tapi sebaiknya tetap dikasih xo utk woofer, karena pada frekuensi tinggi, sekalipun ngga bikin woofer putus, tapi akan keluar suara yang tidak musikal karena gejala cone break-up istilah teknisnya. Kalau pake xo, hal ini bisa dihindari.
XO (crossover) kalau dibagi berdasarkan apa yah… berdasarkan posisi barangkali ya, dibagi jadi 2 yaitu:
1. active xo / xo aktif : ini letaknya di depan amplifier (maksudnya secara skema), jadi posisi xo sebelum penguat akhir. Aplikasi gini lazim dipake di pro-audio. Pertimbangan utamanya utk efisiensi baik dari biaya maupun bobot. Pada sistem 2-way audiopro, active xo kemudian dibarengi dengan bi-amping, satu ampli mendrive tweeter dan satu ampli mendrive woofer/fullrange driver. Secara perhitungan teknis, active xo memang lebih mudah didesain karena impedance yang dihadapi adalah konstan yaitu impedance amplifier, sementara pada passive xo, impedance berubah terhadap frequency. Active xo juga lebih hemat, karena komponennya relatif lebih kecil dan murah karena arus yang lewat juga masih arus pre-amplified, lain dengan passive xo yang harus menangani arus keluaran amplifier yang jauh lebih besar.
2. passive xo / xo pasif : xo ini letaknya di belakang amplifier (secara skema), jadi setelah lewat amplifier. Xo jenis berada dalam speaker pasif, dan jenis ini yang mungkin lebih umum kita kenal. Barangnya ga keliatan karena ada di dalam box speaker. Spt uda disebutin sekilas di atas, xo pasif lebih sulit didesain karena menghadapi impedansi yang berubah-ubah terhadap frekuensi.
Kenapa active xo umum dipakai di aplikasi audiopro (tata suara panggung / ‘live’ music) ? Banyak pertimbangannya, tapi utamanya sih efisiensi, baik bobot/berat, biaya dan waktu. Amplifier di-dekat-kan sedekat mungkin dengan speaker, supaya kabel speaker bisa sependek mungkin.
Speaker burn-in
Sebetulnya semua perangkat yang digunakan dalam satu sistem audio ada baiknya diburn-in dahulu. Seberapa signifikan efek positif yang didapat setelah burn-in, tergantung resolusi dari sistem tersebut, semakin tinggi resolusi sistem tersebut, semakin signifikan efek dari burn-in ini.
Kenapa perlu burn-in?
Seperti halnya mesin pada mobil baru, dulu dikenal istilah “in reijn” (mudah2an ga salah tulis). Proses burn-in ini mirip sekali dengan ‘in reijn’. Pada mobil yang masih dalam masa ‘in reijn’ tersebut, mesin tidak boleh dijalankan pada kekuatan maksimum, karena pada masa ini, logam2 yang ada dalam mesin tersebut mengalami proses muai susut yang relatif masih cukup besar yang makin lama akan makin mengecil dan konstan. Jika sudah tercapai kondisi stabil, maka mesin aman utk diberi tekanan maksimum. Peralatan dalam sistem audio, mulai dari komponen2 di dalam perangkat, hingga perkabelan juga kurang lebih mengalami hal yang sama karena dialiri listrik (sinyal musik). Sistem yang baru biasanya terdengar lebih kaku dan belum stabil performanya. Seiring berjalannya waktu, performanya berubah dan makin stabil hingga mencapai performa maksimum.
Materi untuk mem-burn-in speaker (termasuk total sistem).
Untuk memburn-in speaker, banyak cd audiophile khusus yang menyediakan track khusus untuk burn-in speaker. Biasanya terdengar seperti desis (spt pada radio waktu tidak ada siaran) dan bunyi men-juit naik turun dari rendah ke tinggi, ini bunyi frequency dari 20hz hingga 20,000hz. Saya pribadi lebih suka melakukan burn-in dengan menggunakan radio FM saja, karena selain lebih hemat (optik cd tidak dipaksa bekerja terus-menerus), hasilnya juga luwes menurut saya. Biarkan radio menyala terus pada level volume dengar normal, sekalipun sudah tidak ada siaran. Minimal 20 jam awal biasanya sudah mulai terasa ada perubahan, makin stabil setelah lewat 100 jam biasanya sih.
Tips untuk mem-burn-in speaker.
Dengan melakukan burn-in ini, kadang kita sendiri merasa terganggu, karena speaker berbunyi terus sepanjang malam. Ada tips praktis untuk mem-burn-in speaker dengan gangguan yang minimal:
1. Letakkan kedua speaker saling berhadapan, muka dengan muka hingga sedekat mungkin.
2. Tutup kedua speaker (terutama pertemuan kedua mukanya) dengan selimut atau kain tebal.
3. Balikkan kutub / polarity salah satu speaker. Cukup sebelah saja, maksudnya dengan cara ini, sinyal yang keluar menjadi berlawanan (out-of-phase 180 derajat) sehingga praktis saling melemahkan.
Kenapa perlu burn-in?
Seperti halnya mesin pada mobil baru, dulu dikenal istilah “in reijn” (mudah2an ga salah tulis). Proses burn-in ini mirip sekali dengan ‘in reijn’. Pada mobil yang masih dalam masa ‘in reijn’ tersebut, mesin tidak boleh dijalankan pada kekuatan maksimum, karena pada masa ini, logam2 yang ada dalam mesin tersebut mengalami proses muai susut yang relatif masih cukup besar yang makin lama akan makin mengecil dan konstan. Jika sudah tercapai kondisi stabil, maka mesin aman utk diberi tekanan maksimum. Peralatan dalam sistem audio, mulai dari komponen2 di dalam perangkat, hingga perkabelan juga kurang lebih mengalami hal yang sama karena dialiri listrik (sinyal musik). Sistem yang baru biasanya terdengar lebih kaku dan belum stabil performanya. Seiring berjalannya waktu, performanya berubah dan makin stabil hingga mencapai performa maksimum.
Materi untuk mem-burn-in speaker (termasuk total sistem).
Untuk memburn-in speaker, banyak cd audiophile khusus yang menyediakan track khusus untuk burn-in speaker. Biasanya terdengar seperti desis (spt pada radio waktu tidak ada siaran) dan bunyi men-juit naik turun dari rendah ke tinggi, ini bunyi frequency dari 20hz hingga 20,000hz. Saya pribadi lebih suka melakukan burn-in dengan menggunakan radio FM saja, karena selain lebih hemat (optik cd tidak dipaksa bekerja terus-menerus), hasilnya juga luwes menurut saya. Biarkan radio menyala terus pada level volume dengar normal, sekalipun sudah tidak ada siaran. Minimal 20 jam awal biasanya sudah mulai terasa ada perubahan, makin stabil setelah lewat 100 jam biasanya sih.
Tips untuk mem-burn-in speaker.
Dengan melakukan burn-in ini, kadang kita sendiri merasa terganggu, karena speaker berbunyi terus sepanjang malam. Ada tips praktis untuk mem-burn-in speaker dengan gangguan yang minimal:
1. Letakkan kedua speaker saling berhadapan, muka dengan muka hingga sedekat mungkin.
2. Tutup kedua speaker (terutama pertemuan kedua mukanya) dengan selimut atau kain tebal.
3. Balikkan kutub / polarity salah satu speaker. Cukup sebelah saja, maksudnya dengan cara ini, sinyal yang keluar menjadi berlawanan (out-of-phase 180 derajat) sehingga praktis saling melemahkan.
Fungsi spike (kaki) pada speaker
Pada saat driver (woofer, mid atau tweeter) bergetar untuk menghasilkan bunyi, maka akan menimbulkan reaksi dari lingkungan sekitarnya, terutama dari box speaker, dengan bergetar pula yang disebut resonansi. Hal ini harus dihindari sebisa mungkin, karena getaran yang terjadi akan merusak bunyi yang keluar dari driver. Itu sebab, salah satu cara sederhana untuk mengetahui apakah speaker itu dibuat dengan baik atau tidak adalah dengan meraba dinding box speaker pada waktu speaker dibunyikan, setidaknya dalam level volume dengar yang normal, semakin minimal getaran yang terjadi, semakin baik, ini indikasi awal.
Kenapa diperlukan spike? Spike disini fungsi utamanya adalah meminimalkan bidang kontak antara speaker dengan lantai (pada box floorstand) atau bidang kontak antara speaker dengan speaker stand (pada box bookshelf dengan stand speaker). Kenapa harus diminimalkan? Supaya getaran yang terjadi tidak diteruskan ke lantai atau ke stand speaker, yang kemudian juga diteruskan ke lantai, dsb.
Banyak cara dan trik sederhana untuk melakukan hal ini. Yang murah dan mudah diantaranya adalah dengan menggunakan kaki karet kursi yang banyak dijual di supermarket. Atau bisa juga dengan bola bekel yang dibelah dua. Atau bisa juga dengan kelereng yang ditaruh dengan lilin mainan (sebutan umumnya, ‘malam’, yang utk mainan anak-anak), maksudnya supaya kelerengnya tidak bergeser saja, dan yang kontak jadi hanya 2 titik saja, di atas dan bawah kelereng tsb. Kalau anda mau beli, accessories high-end yang khusus utk aplikasi ini juga banyak tersedia.
Posisi peletakan spike juga bermacam2, ada yang formasi segitiga/triangle, ada yang formasi segiempat .
Spike ini sangat berperan dalam memberikan image bunyi yang lebih baik. Kesan posisi tiap instrumen, kedalaman panggung, akan lebih nyata dengan penggunaan spike.
Kaskus
Kenapa diperlukan spike? Spike disini fungsi utamanya adalah meminimalkan bidang kontak antara speaker dengan lantai (pada box floorstand) atau bidang kontak antara speaker dengan speaker stand (pada box bookshelf dengan stand speaker). Kenapa harus diminimalkan? Supaya getaran yang terjadi tidak diteruskan ke lantai atau ke stand speaker, yang kemudian juga diteruskan ke lantai, dsb.
Banyak cara dan trik sederhana untuk melakukan hal ini. Yang murah dan mudah diantaranya adalah dengan menggunakan kaki karet kursi yang banyak dijual di supermarket. Atau bisa juga dengan bola bekel yang dibelah dua. Atau bisa juga dengan kelereng yang ditaruh dengan lilin mainan (sebutan umumnya, ‘malam’, yang utk mainan anak-anak), maksudnya supaya kelerengnya tidak bergeser saja, dan yang kontak jadi hanya 2 titik saja, di atas dan bawah kelereng tsb. Kalau anda mau beli, accessories high-end yang khusus utk aplikasi ini juga banyak tersedia.
Posisi peletakan spike juga bermacam2, ada yang formasi segitiga/triangle, ada yang formasi segiempat .
Spike ini sangat berperan dalam memberikan image bunyi yang lebih baik. Kesan posisi tiap instrumen, kedalaman panggung, akan lebih nyata dengan penggunaan spike.
Kaskus
26/01/11
Contoh Desain Box Speaker
Note, this sample speaker box makes use of many of the calculators found on the menu on the left. You should also review the Speaker Building FAQ for help with this example.
For this example, I picked 3 ScanSpeak drivers for a 3-way speaker - the same 3 used on the Crossover Example. Note: This example is old and the characteristics of these drivers have since changed and/or been discontinued. These 3 drivers might be smaller than what is expected of a typical 3-way system. The mid is 4" and the woofer is 6.5" in size, but this system is still capable of producing deep frequencies at 35Hz. The drivers I chose for this example (with specifications provided by the manufacturer) are:
We will first use the Sealed vs. Ported Calculator to determine if a sealed or a ported enclosure should be used. Th Sealed vs. Ported calculator uses the formula below. If the EBP is less than 50, then a Sealed Enclosure is recommended. Above 90~100 and a Ported Enclosure is recommended. Between 50 & 90 either type would work.
Efficiency Bandwidth Product (EBP) = Free Air Resonance (Fs) / Driver Electrical "Q" (Qes)
The tweeter in our example is already sealed and doesn't require an enclosure. The EBP of our midrange and woofer drivers are calculated as:
Mid EBP = 77 / .36 = 213 Woofer EBP = 30 / .26 = 115
Both values are well above 90 and call for Ported Enclosures. To keep this example interesting, I am going to ignore these results and use one sealed enclosure and one ported enclosure to show the differences between the two.
For this example, I picked 3 ScanSpeak drivers for a 3-way speaker - the same 3 used on the Crossover Example. Note: This example is old and the characteristics of these drivers have since changed and/or been discontinued. These 3 drivers might be smaller than what is expected of a typical 3-way system. The mid is 4" and the woofer is 6.5" in size, but this system is still capable of producing deep frequencies at 35Hz. The drivers I chose for this example (with specifications provided by the manufacturer) are:
| Driver | Model | Size | Frequency Range | Imped | Sensitivity | Equivalent Volume (Vas) | Free Air Resonance (Fs) | Total Q (Qts) | Electrical Q (Qes) | Xmax |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tweeter | D2008/8512 | 20mm | 2k-30k Hz | 8 ohms | 90 db SPL | 1000Hz | ||||
| Mid | 13M/8636 | 4" | 200-4k Hz | 8 ohms | 88 db SPL | 3 liters | 77Hz | 0.32 | 0.36 | 1.5mm |
| Woofer | 18W/8543 | 6.5" | 35-3.2k Hz | 8 ohms | 89 db SPL | 49 liters | 30Hz | 0.22 | 0.26 | 6.5mm |
We will first use the Sealed vs. Ported Calculator to determine if a sealed or a ported enclosure should be used. Th Sealed vs. Ported calculator uses the formula below. If the EBP is less than 50, then a Sealed Enclosure is recommended. Above 90~100 and a Ported Enclosure is recommended. Between 50 & 90 either type would work.
The tweeter in our example is already sealed and doesn't require an enclosure. The EBP of our midrange and woofer drivers are calculated as:
Both values are well above 90 and call for Ported Enclosures. To keep this example interesting, I am going to ignore these results and use one sealed enclosure and one ported enclosure to show the differences between the two.
Audio Speaker Design
Rumus untuk Menghitung Volume dan Port Dimensi
Driver Parameters
Ro = Rmax / ReRx = Re * ( Ro )1/2
Qms = Fqr * [( Ro ) / ( F2 – F1 )]1/2
Qes = Qms / ( Ro – 1 )
Qts = Qms / Ro
Sd = 3.14159 * ( Dia / 200 )2
Cms =
[ 1 / ( 12.56636 * ( M / 1000 ) ) ] * [ (Fqr + Fqs) * (Fqr – Fqs) / (Fqr2 * Fqs2) ]
Vas = 140000000 * Cms * Sd2
EMP = Fqs / Qes
L = X / 6283.18 X = ( R2 – Re2 )1/2
Sealed Enclosures
Qts = Qes * Qms / ( Qms + Qes )Fcb = Fs * [ ( Vas / Vb ) + 1 ]1/2
Qtc = Qts * [ ( Vas / Vb ) + 1 ]1/2
db = 20 * log10[ Qtc4 / ( Qtc2 – 0.25 ) ]
Fdb = Fcb * [1 – ( 1 / ( 2 * Qtc2 )]1/2
F3 = Fcb * [ ( a + (a2 + 4)1/2 ) / 2 ]1/2
a = [ 1 / (Qtc * Qtc) ] – 2
Dual driver
Qes = Qes / 2
Vas = 2 * Vas
Quad driver
Qes = Qes / 4
Vas = 4 * Vas
Vented Enclosures
Vb = 15 * Vas * Qts2.87Fb = 0.42 * Fs / Qts0.9
F3 = 0.26 * Fs / Qts1.4
db = 20 * log10 [ 2.6 * Qts * ( Vas / Vb )0.35 ]
Recalculations
Fb = [ Vas / Vb ] 0.32
F3 = Fs * [ Vas / Vb ] 1/2
Single port
Vb_in = Vb * 61.016949
R_in = 0.393701 * Dp / 2
Lp_in = [ ( 14630000 * R_in2 ) / ( Fb2 * Vb_in ) ] - [ 1.463 * R_in ]
Lp = Lp_in * 2.54
Dual port
Dp = [(Dp * Dp) + (Dp * Dp)]1/2 - for calculation of Lp
Dual driver
Qes = Qes / 2
Vas = 2 * Vas
dd = 68600.0152 / Fqx
Dimension calculations
y = [ (Vb * 1000) + (Vdr * 1000) / ( 1.618 * 0.618 ) ]1/3
W = yH = y * 1.618
D = y * 0.618
3rd order 2 way Butterworth crossover
C1 = 106103 / ( Fc * Rt ) C2 = 318391 / ( Fc * Rt )
C3 = 212207 / (Fc * Rw)
L1 = 119.37 * Rt / Fc
L2 = 238.73 * Rw / Fc
L3 = 79.58 * Rw / Fc
1st order 3 way crossover
ratio = Math.round [ ( FqH / FqL ) – 1 ]FqL2 = ( FqL * FqH / ratio )1/2
FqH2 = FqL * FqH / FqL2
C1 = 159155 / ( FqH * Rt )
C2 = 159155 / ( FqL2 * Rm )
L1 = 159.155 * Rm / FqH2
L2 = 159.155 * Rw / FqL
Attenuation network
Rp = 10db/20 * Rt / ( 1 – 10db/20 ) Rs = Rt – [ ( 1 / Rp ) + ( 1 / Rt ) ] –1
Impedance compensation network
Rc = 1.25 * ReC = 1000 * Ld / ( Rc * Rc )
Please see the Online Enclosure Calculators for definitions of variables.
Langganan:
Postingan (Atom)
Skema Subwoofer Lapangan 18" - Bass Reflek
Skema Subwoofer Lapangan 18" model bass reflek. Berikut ini skema-skema Subwoofer untuk outdoor, yang belum pernah nyoba, silah dicoba....
-
Dulu waktu pertama main2 speaker, saya juga ga tau, “Binatang apa crossover itu?” Tapi ternyata crossover merupakan salah satu pemain kunci...
-
Kode Remote Multi / Universal (TV) : Aiwa: 009, 057, 058 Aolinpike: 033, 053, 056, 079 Anhua: 017, 001, 032, 047 Aolinpu: 104 Ben...
-
Skema box speaker mini Lara (line array). Bagi Anda yang suka audio, ini boleh Anda coba. Terlihat kecil tapi suaranya cukup lantang dan ...










